Mengintip Kebutuhan dan Ketersediaan Waterglass untuk Industri Nasional

0
1517
Mengintip kebutuhan dan ketersediaan waterglass di Indonesia. (Berempat.com)

Kebutuhan banyak, tapi kapasitas produksinya masih terbatas

Berempat.com – Jarang diekspos atau diwartakan media, namun sebetulnya industri kimia di Indonesia bisa dibilang terus bertumbuh setiap tahun. Pertumbuhan yang dimaksud adalah tingginya permintaan bahan kimia di Indonesia, khususnya untuk kebutuhan industri. Sodium silicate atau waterglass merupakan salah satu bahan kimia yang terbilang besar kebutuhannya di Indonesia.

Industri yang membutuhkan waterglass di Indonesia terbilang cukup banyak. Mulai dari industri sabun dan detergen, keramik, pengecoran logam, silica gel, coating, hingga tekstil dan batik. Hitung saja, ada berapa banyak perusahaan yang bergerak di masing-masing industri tersebut saat ini.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan alam pasir silika yang cukup berlimpah sebagai bahan baku utama waterglass, seperti wilayah Samarinda, Lampung, Bangka, Rembang dan Tuban yang diklaim sebagai wilayah sumber pasir silika di Indonesia.

Mengenai data pasti ketersediaan pasir silika di Indonesia memang belum ada badan atau lembaga yang mendatanya. Tapi, bila menelisik pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah impor waterglass untuk memenuhi kebutuhan industri terus menunjukkan peningkatan yang signifikan setiap tahunnya.

Mulai dari tahun 2010 Indonesia mengimpor sekitar 20 ribu ton waterglass. Angka tersebut terus naik setiap tahunnya. Tahun 2011 Indonesia mengimpor 34 juta ton, tahun 2012 sebesar 39 juta ton, 2013 naik menjadi 39 juta ton, dan 2014 sebesar 45 juta ton.

Perlunya Indonesia mengimpor waterglass untuk memenuhi kebutuhan industri memang tak bisa terelakkan. Tommy, Business Development Manager PT Indo Chemica Lestari (ICL) sebagai salah satu produsen waterglass di Indonesia mengungkapkan, saat ini untuk sekali pesanan waterglass biasanya paling sedikit berada di angka 8-10 ton.

Namun, sayangnya industri waterglass di Indonesia masih tergantung pada impor untuk memenuhi tingginya kebutuhan tersebut. Tak lain kebutuhan untuk bahan baku seperti cullet dan soda ash.

“Karena itu, kalau kita bisa memenuhi kebutuhan waterglass di Indonesia, maka tidak perlu lagi sampai impor dan harga pun bisa menjadi lebih murah,” terangnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat produsen waterglass di Indonesia belum bisa memenuhi permintaan pasar dalam negeri, salah satunya keterbatasan kapasitas produksi industri cullet yang dibutuhkan untuk pembuatan waterglass di Indonesia.

Selengkapnya baca di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here